Saturday, August 4, 2007

MAMA RATIH, MERTUAKU

Sudah dua tahun ini aku
menikah dengan Virni, dia seorang model iklan dan enam bulan lalu, dia
menjadi seorang bintang sinetron, sementara aku sendiri adalah seorang
wiraswasta di bidang pompa bensin. Usiaku kini 32 tahun, sedangkan Virni
usia 21 tahun. Virni seorang yang cantik dengan kulit yang putih bersih
mungkin karena keturunan dari ibunya. Aku pun bangga mempunyai istri
secantik dia. Ibunya Virni, mertuaku, sebut saja Mama Ratih, orangnya pun
cantik walau usianya sudah 39-tahun. Mama Ratih merupakan istri ketiga dari
seorang pejabat negara ini, karena istri ketiga jadi suaminya jarang ada
di rumah, paling-paling sebulan sekali. Sehingga Mama Ratih bersibuk diri
dengan berjualan berlian.



Aku tinggal bersama istriku di rumah ibunya, walau aku sndiri punya rumah
tapi karena menurut istriku, ibunya sering kesepian maka aku tinggal di
"Pondok Mertua Indah". Aku yang sibuk sekali dengan bisnisku,
sementara Mama Ratih juga sibuk, kami jadi kurang banyak berkomunikasi tapi
sejak istriku jadi bintang sinetron 6 bulan lalu, aku dan Mama Ratih jadi
semakin akrab malahan kami sekarang sering melakukan hubungan suami istri,
inilah ceritanya.



Sejak istriku sibuk syuting sinetron, dia banyak pergi keluar kota,
otomatis aku dan mertuaku sering berdua di rumah, karena memang kami tidak
punya pembantu. Tiga bulan lalu, ketika istriku pergi ke Jogja, setelah
kuantar istriku ke stasiun kereta api, aku mampir ke rumah pribadiku dan
baru kembali ke rumah mertuaku kira-kira jam 11.00 malam. Ketika aku masuk
ke rumah aku terkaget, rupanya mertuaku belum tidur. Dia sedang menonton
TV di ruang keluarga.



"Eh, Mama.. belum tidur..."

"Belum, Tom... saya takut tidur kalau di rumah belum ada
orang..."

"Oh, Maaf Ma, saya tadi mampir ke rumah dulu.. jadi agak
telat..."

"Virni... pulangnya kapan?"

"Ya... kira-kira hari Rabu, Ma... Oh.. sudah malam Ma, saya tidur
dulu..."

"Ok... Tom, selamat tidur..."



Kutinggal Mama Ratih yang masih nonton TV, aku masuk ke kamarku, lalu
tidur. Keesokannya, Sabtu Pagi ketika aku terbangun dan menuju ke kamar
makan kulihat Mama Ratih sudah mempersiapkan sarapan yang rupanya nasi
goreng, makanan favoritku.



"Selamat Pagi, Tom..."

"Pagi... Ma, wah Mama tau aja masakan kesukaan saya."

"Kamu hari ini mau kemana Tom?"

"Tidak kemana-mana, Ma... paling cuci mobil..."

"Bisa antar Mama, Mama mau antar pesanan berlian."

"Ok.. Ma..."



Hari itu aku menemani Mama pergi antar pesanan dimana kami pergi dari jam
09.00 sampai jam 07.00 malam. Selama perjalanan, Mama menceritakan bahwa
dia merasa kesepian sejak Virni makin sibuk dengan dirinya sendiri dimana
suaminya pun jarang datang, untungnya ada diriku walaupun baru malam bisa
berjumpa. Sejak itulah aku jadi akrab dengan Mama Ratih.



Sampai di rumah setelah berpergian seharian dan setelah mandi, aku dan
Mama nonton TV bersama-sama, dia mengenakan baju tidur modelnya baju
handuk sedangkan aku hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Tiba-tiba
Mama menyuruhku untuk memijat dirinya.

"Tom, kamu capek nggak, tolong pijatin leher Mama yach... habis pegal
banget nih..."

"Dimana Ma?"

"Sini.. Leher dan punggung Mama..."

Aku lalu berdiri sementara Mama Ratih duduk di sofa, aku mulai memijat
lehernya, pada awalnya perasaanku biasa tapi lama-lama aku terangsang juga
ketika kulit lehernya yang putih bersih dan mulus kupijat dengan lembut
terutama ketika kerah baju tidurnya diturunkan makin ke bawah dimana
rupanya Mama Ratih tidak mengenakan BH dan payudaranya yang cukup menantang
terintip dari punggungnya olehku dan juga wangi tubuhnya yang sangat
menusuk hidungku.



"Maaf, Ma... punggung Mama juga dipijat..."

"Iya... di situ juga pegal..."

Dengan rasa sungkan tanganku makin merasuk ke punggungnya sehingga nafasku
mengenai lehernya yang putih, bersih dan mulus serta berbulu halus.
Tiba-tiba Mama berpaling ke arahku dan mencium bibirku dengan bibirnya
yang mungil nan lembut, rupanya Mama Ratih juga sudah mulai terangsang.
"Tom, Mama kesepian... Mama membutuhkanmu..." Aku tidak menjawab
karena Mama memasukkan lidahnya ke mulutku dan lidah kami bertautan.
Tanganku yang ada di punggungnya ditarik ke arah payudaranya sehingga
putingnya dan payudaranya yang kenyal tersentuh tanganku. Hal ini
membuatku semakin terangsang, dan aku lalu merubah posisiku, dari belakang
sofa, aku sekarang berhadapan dengan Mama Ratih yang telah meloloskan
bajunya sehingga payudaranya terlihat jelas olehku.



Aku tertegun, rupanya tubuh Mama Ratih lebih bagus dari milik anaknya
sendiri, istriku. Aku baru pertama kali ini melihat tubuh ibu mertuaku
yang toples.

"Tom, koq bengong, khan Mama sudah bilang, Mama kesepian..."

"iya... iya.. iya Mah,"

Ditariknya tanganku sehingga aku terjatuh di atas tubuhnya, lalu bibirku
dikecupnya kembali. Aku yang terangsang membalasnya dengan memasukkan
lidahku ke mulutnya. Lidahku disedot di dalam mulutnya. Tanganku mulai
bergerilya pada payudaranya. Payudaranya yang berukuran 36B sudah
kuremas-remas, putingnya kupelintir yang membuat Mama Ratih menggoyangkan
tubuhnya karena keenakan. Tangannya yang mungil memegang batangku yang
masih ada di balilk celana pendekku. Diusap-usapnya hingga batangku mulai
mengeras dan celana pendekku mulai diturunkan sedikit, setelah itu
tangannya mulai mengorek di balik celana dalamku sehingga tersentuhlah
kepala batangku dengan tangannya yang lembut yang membuatku gelisah.



Keringat kami mulai bercucuran, payudaranya sudah tidak terpegang lagi
tanganku tapi mulutku sudah mulai menari-nari di payudaranya, putingnya
kugigit, kuhisap dan kukenyot sehingga Mama Ratih kelojotan, sementara
batangku sudah dikocok oleh tangannya sehingga makin mengeras. Tanganku
mulai meraba-raba celana dalamnya, dari sela-sela celana dan pahanya yang
putih mulus kuraba vaginanya yang berbulu lebat. Sesekali kumasuki jariku
pada liang vaginanya yang membuat dirinya makin mengelinjang dan makin
mempercepat kocokan tangannya pada batangku.



Hampir 10 menit lamanya setelah vaginanya telah basah oleh cairan yang
keluar dengan berbau harum, kulepaskan tanganku dari vaginanya dan Mama
Ratih melepaskan tangannya dari batangku yang sudah keras. Mama Ratih lalu
berdiri di hadapanku, dilepaskannya baju tidurnya dan celana dalamnya
sehingga aku melihatnya dengan jelas tubuh Mama Ratih yang bugil dimana
tubuhnya sangat indah dengan tubuh tinggi 167 cm, payudara berukuran 36B
dan vagina yang berbentuk huruf V dengan berbulu lebat, membuatku menahan
ludah ketika memandanginya.



"Tom, ayo... puasin Mama..."

"Ma... tubuh Mama bagus sekali, lebih bagus dari tubuhnya
Virni..."

"Ah... masa sih.."

"Iya, Ma.. kalau tau dari 2 tahun lalu, mungkin Mamalah yang saya
nikahi..."

"Ah.. kamu bisa aja..."

"Iya.. Ma.. bener deh.."

"Iya sekarang.. puasin Mama dulu.. yang penting khan kamu bisa
menikmati Mama sekarang..."

"Kalau Mama bisa memuaskan saya, saya akan kawini Mama..."



Mama lalu duduk lagi, celana dalamku diturunkan sehingga batangku sudah
dalam genggamannya, walau tidak terpegang semua karena batangku yang besar
tapi tangannya yang lembut sangat mengasyikan.

"Tom, batangmu besar sekali, pasti Virni puas yach."

"Ah.. nggak. Virni.. biasa aja Ma..."

"Ya.. kalau gitu kamu harus puasin Mama yach..."

"Ok... Mah..."

Mulut mungil Mama Ratih sudah menyentuh kepala batangku, dijilatnya dengan
lembut, rasa lidahnya membuat diriku kelojotan, kepalanya kuusap dengan
lembut. Batangku mulai dijilatnya sampai biji pelirku, Mama Ratih mencoba
memasukkan batangku yang besar ke dalam mulutnya yang mungil tapi tidak
bisa, akhirnya hanya bisa masuk kepala batangku saja dalam mulutnya.



Hal ini pun sudah membuatku kelojotan, saking nikmatnya lidah Mama Ratih
menyentuh batangku dengan lembut. Hampir 15 menit lamanya batangku dihisap
membuatnya agak basah oleh ludah Mama Ratih yang sudah tampak kelelahan
menjilat batangku dan membuatku semakin mengguncang keenakan. Setelah itu
Mama Ratih duduk di Sofa dan sekarang aku yang jongkok di hadapannya. Kedua
kakinya kuangkat dan kuletakkan di bahuku. Vagina Mama Ratih terpampang di
hadapanku dengan jarak sekitar 50 cm dari wajahku, tapi bau harum
menyegarkan vaginanya menusuk hidungku.



"Ma, Vagina Mama wangi sekali, pasti rasanya enak sekali yach."

"Ah, masa sih Tom, wangi mana dibanding punya Virni dari punya
Mama."

"Jelas lebih wangi punya mama dong..."



"Aaakkhh..."

Vagina Mama Ratih telah kusentuh dengan lidahku. Kujilat lembut liang
vagina Mama Ratih, vagina Mama Ratih rasanya sangat menyegarkan dan manis
membuatku makin menjadi-jadi memberi jilatan pada vaginanya.

"Ma, vagina... Mama sedap sekali.. rasanya segar..."

"Iyaaaah... Tom, terus... Tom... Mama baru kali ini vaginanya
dijilatin... ohhh.. terus... sayang..."



Vagina itu makin kutusuk dengan lidahku dan sampai juga pada klitorisnya
yang rasanya juga sangat legit dan menyegarkan. Lidahku kuputar dalam
vaginanya, biji klitorisnya kujepit di lidahku lalu kuhisap sarinya yang
membuat Mama Ratih menjerit keenakan dan tubuhnya menggelepar ke kanan ke
kiri di atas sofa seperti cacing kepanasan. "Ahh... ahh.. oghh
oghh... awww.. argh.. arghh.. lidahmu Tom... agh, eena... enakkkhh..
aahh... trus.. trus..." Klitoris Mama Ratih yang manis sudah habis
kusedot sampai berulang-ulang, tubuh Mama Ratih sampai terpelintir di atas
sofa, hal itu kulakukan hampir 30 menit dan dari vaginanya sudah
mengeluarkan cairan putih bening kental dan rasanya manis juga, cairan
itupun dengan cepat kuhisap dan kujilat sampai habis sehingga tidak ada
sisa baik di vaginanya maupun paha mama Ratih.



"Ahg... agh... Tom... argh... akh.. akhu... keluar.. nih... ka..
kamu.. hebat dech..." Mama Ratih langsung ambruk di atas sofa dengan
lemas tak berdaya, sementara aku yang merasa segar setelah menelan cairan
vagina Mama Ratih, langsung berdiri dan dengan cepat kutempelkan batang
kemaluanku yang dari 30 menit lalu sudah tegang dan keras tepat pada liang
vagina Mama Ratih yang sudah kering dari cairan. Mama Ratih melebarkan
kakinya sehingga memudahkanku menekan batangku ke dalam vaginanya, tapi
yang aku rasakan liang vagina Mama Ratih terasa sempit, aku pun keheranan.



"Ma... vagina Mama koq sempit yach... kayak vagina anak gadis."

"Kenapa memangnya Tom, nggak enak yach..."

"Justru itu Ma, Mama punya sempit kayak punya gadis. Saya senang Ma,
karena vagina Virni sudah agak lebar, Mama hebat, pasti Mama rawat
yach?"

"Iya, sayang.. walau Mama jarang ditusuk, vaginanya harus Mama rawat
sebaik-baiknya, toh kamu juga yang nusuk..."

"Iya Ma, saya senang bisa menusukkan batang saya ke vagina Mama yang
sedaaap ini..."

"Akhhhh... batangmu besar sekali..."

Vagina Mama Ratih sudah terterobos juga oleh batang kemaluanku yang
diameternya 4 cm dan panjangnya 28 cm, setelah 6 kali kuberikan tekanan.



Pinggulku kugerakan maju-mundur menekan vagina Mama Ratih yang sudah
tertusuk oleh batangku, Mama Ratih hanya bisa menahan rasa sakit yang enak
dengan memejamkan mata dan melenguh kenikmatan, badannya digoyangkan
membuatku semakin semangat menggenjotnya hingga sampai semua batangku
masuk ke vaginanya. "Tom.. nggehhh.. ngghhh.. batangmu menusuk sampai
ke perut.. nich.. agggghhh.. agghhh.. aahhh.. eenaakkhh..." Aku pun
merasa keheranan karena pada saat masukkan batangku ke vaginanya Mama Ratih
terasa sempit, tapi sekarang bisa sampai tembus ke perutnya. Payudara Mama
Ratih yang ranum dan terbungkus kulit yang putih bersih dihiasi puting
kecil kemerahan sudah kuterkam dengan mulutku. Payudara itu sudah kuhisap,
kujilat, kugigit dan kukenyot sampai putingnya mengeras seperti batu
kerikil dan Mama Ratih belingsatan, tangannya membekap kepalaku di
payudaranya sedangkan vaginanya terhujam keras oleh batangku selama hampir
1 jam lamanya yang tiba-tiba Mama Ratih berteriak dengan lenguhan karena
cairan telah keluar dari vaginanya membasahi batangku yang masih di dalam
vaginanya, saking banyaknya cairan itu sampai membasahi pahanya dan pahaku
hingga berasa lengket.



"Arrrgghhhh.. argghhh.. aakkkhh.. Mama... keluar nich Tom... kamu
belum yach..?" Aku tidak menjawab karena tubuhnya kuputar dari posisi
terlentang dan sekarang posisi menungging dimana batangku masih tertancap
dengan kerasnya di dalam vagina Mama Ratih, sedangkan dia sudah lemas tak
berdaya. Kuhujam vagina Mama Ratih berkali-kali sementara Mama Ratih yang
sudah lemas seakan tidak bergerak menerima hujaman batangku, Payudaranya
kutangkap dari belakang dan kuremas-remas, punggungnya kujilat. Hal ini
kulakukan sampai 1 jam kemudian di saat Mama Ratih meledak lagi
mengeluarkan cairan untuk yang kedua kalinya, sedangkan aku mencapai
puncak juga dimana cairanku kubuang dalam vagina Mama Ratih hingga banjir
ke kain sofa saking banyaknya cairanku yang keluar. "Akhh.. akh.. Ma,
Vagina Mama luar biasa sekali..." Aku pun ambruk setelah hampir 2,5
jam merasakan nikmatnya vagina mertuaku, yang memang nikmat, meniban tubuh
Mama Ratih yang sudah lemas lebih dulu.



Aku dan Mama terbangun sekitar jam 12.30 malam dan kami pindah tidur ke
kamar Mama Ratih, setelah terbaring di sebelah Mama dimana kami masih
sama-sama bugil karena baju kami ada di sofa, Mama Ratih memelukku dan
mencium pipiku.

"Tom, Mama benar-benar puas dech, Mama pingin kapan-kapan coba lagi
batangmu yach, boleh khan..."

"Boleh Ma, saya pun juga puas bisa mencoba vagina Mama dan
sekarangpun yang saya inginkan setiap malam bisa tidur sama Mama jika
Virni nggak pulang."

"Iya, Tom.. kamu mau ngeloni Mama kalau Virni pergi?"

"Iya Ma, vagina Mama nikmat sih."

"Air manimu hangat sekali Tom, berasa dech waktu masuk di dalam
vagina Mama."

"Kita Main lagi Ma...?"

"Iya boleh..."



Kami pun bermain dalam nafsu birahi lagi di tempat tidur Mama hingga
menjelang ayam berkokok baru kami tidur. Mulai hari itu aku selalu tidur
di kamar Mama jika istriku ada syuting di luar kota dan ini berlangsung
sampai sekarang.





TAMAT