Saturday, August 4, 2007

AKU WANITA PENGGODA - 01

Saat ini aku baru lulus SMA
sedang cari tempat kuliah, tapi sudah 3 kota kujelajahi tidak satupun yang
aku rasa cocok, akhirnya aku kembali ke kotaku. Sebut saja namaku Novita,
saat ini usiaku 19 tahun, kata orang yang mengenalku aku dianggap sebagai
wanita penggoda ini disebabkan bentuk tubuhku yang yahud dengan bodi
montok dan seksi serta bibir tipis dan kulit putih bersih bak mutiara.
Orang bilang aku kayak bintang sinetron, CK.



Awalnya aku dicap sebagai gadis penggoda yaitu ketika aku duduk di kelas
III SMA, aku mempunyai teman akrab, sebut saja Anggie. Dia pindahan dari
sekolah lain, selain sebagai siswa sekolah yang kutahu dia sebagai pelacur
jika di luar lingkungan sekolah. Di sekolah hanya aku yang mengetahuinya,
karena seringnya aku bergaul dengan Anggie, aku jadi sedikit ketularan
gaya pelacurnya, sehingga sekolah tahu kalau aku yang menjadi pelacur.
Karena Anggie-lah, aku sering menonton film porno miliknya. Jadi kalau ada
seorang lelaki yang kulihat ganteng ada di sekolah pasti kuganggu dengan
suitan-suitan.



Lelaki yang pertama kali kugoda adalah kepala sekolahku sendiri, sebut
saja Pak Lubis. Aku dan Anggie sedang ada di lorong sekolah, 1 minggu lagi
aku mau Ebtanas jadi pelajaran sudah berkurang, tapi banyak guru-guru dari
sekolah lain yang meninjau sekolahku karena mereka akan jaga Ebta di
sekolahku. Ada seorang guru dari sekolah lain sedang melintas di depanku
dan Anggie, orangnya sih imut jadi kugoda. "Suit.. suit... Bapak,
boleh dong kenalan sama Novita..." kataku ketika dia melintas di
depanku. Orang itu hanya tersenyum-senyum melihat ke arahku, tapi aku
tidak tahu kalau kepala sekolahku saat itu ada di belakangku. Tiba-tiba
telingaku dijewernya.



"Hayo... kamu Novi.. ganggu orang aja yach..."

"Aduh.. sakit Pak..."

"Kamu ke kantor Bapak ya... kamu ini..."

"Iya... iya.. Pak..."

Dengan langkah terpaksa kuikuti kepala sekolahku ke kantornya. Pak lubis
ini memang terkenal galaknya. Ketika sampai di kantornya disuruhnya duduk
berhadapan terhalang meja kerjanya yang banyak sekali surat-surat di
atasnya.

"Tutup pintunya... terus kamu duduk sini..."

"Iya... Pak..."

Kututup pintu kantor Pak Lubis lalu duduk di hadapannya.

"Nov... kamu ini.. ganggu orang.. aja.. kamu khan seminggu lagi
ujian... apa kamu nggak mau lulus?"

"Iya... mau Pak..."

"Iya... kamu belajar dong... bukannya gangguin orang terus... kalau
kamu begitu terus saya nggak bisa beri kamu lulus..."

"Iya.. jangan dong Pak... Novi.. pingin lulus Pak... tapi Novi punya
syarat deh..."

"Syarat apa.. pakai syarat-syarat segala..."



Aku tidak mengatakan apa-apa syaratnya, aku berdiri dan berjalan ke arah
pintu kantor Pak Lubis.

"Hei.. kamu mau kemana? saya belum selesai."

Pintu kantor Pak Lubis kukunci lalu aku kembali ke arahnya, tapi aku tidak
duduk di kursi lagi, aku duduk di atas meja kerja Pak Lubis yang Pak Lubis
sedang duduk di kursinya melongo melihat tingkah lakuku. Arsip di atas
meja kusingkirkan. Aku berhadapan dengan Pak Lubis, kancing bajuku kubuka
satu persatu dan bajuku kusingkapkan sehingga BH-ku warna pink dan perutku
yang mulus dan putih telah terlihat oleh Pak Lubis, lalu tanganku
menggapai tangan Pak lubis yang berotot, tangan itu kutuntun ke arah rok
abu-abuku, lalu kusingkap rokku dan dengan bantuan tangan Pak Lubis kuraih
celana dalamku warna krem lalu kutarik hingga betis, dan terpampanglah
dengan jelas vaginaku dengan bulu-bulu halus di depan mata Pak Lubis.



"Pak... inilah syaratnya... sekarang selesaikan yang ingin Bapak
selesaikan..."

Pak Lubis hanya terbengong melihat tubuhku yang sudah kubuka untuknya
matanya terus menatap ke arah vaginaku. Nafasnya berubah menjadi semakin
liar.

"Nov... ka.. kamu... hgeehh... vaginamu bagus sekali.. harum.. lagi..
ka.. kamu... mau.. ya..."

"Iya... Pak... selesaikan aja sekarang."

Tiba-tiba tangan Pak Lubis meregangkan kakiku, sehingga semakin jelas
vaginaku terlihatnya. Pak Lubis setengah berdiri lalu lidahnya mulai
menyapu bibir vaginaku dengan lembutnya, yang membuat diriku jadi
menggelinjang karena baru pertama kali ini vaginaku dijilat seseorang,
yang mana sebelumnya hal ini hanya kulihat di film porno milik Anggie,
tapi sekarang aku merasakannya. Keringatku mulai keluar membasahi bajuku,
perutku juga mulai basah oleh keringat.



"Aaahhh... sshhh... Pak.. eee.. enak... sshhh..."

"Nov... kamu baru pertama kali yach... diginiin..."

"Iy.. iyahh... Pak... aahhh..."

Vaginaku terus dijilat oleh lidahnya dengan rakus. Pada saat biji
klitorisku terjilat, aku melenguh.

"Aaahhh... aarghhh... iya.. Pak.. di situ.. Pak.. enak... sekali...
argh.. argh..."

"Iyah... Nov.. Bapak.. juga suka... rasanya manis sekali...
hheeehhh..."



Kepala Pak lubis kupegang dan kuelus lalu kujepit dengan pahaku, rasanya
aku tidak ingin kalau Pak lubis melepaskan lidahnya dari vaginaku. Dan itu
yang membuat Pak Lubis makin menggila menjilati vaginaku. Lima menit
setelah vaginaku mulai basah entah oleh cairan atau ludah Pak Lubis. Pak
Lubis menurunkan celana panjangnya dan di balik itu batang kemaluannya
yang sudah mengeras dan tegang seakan mendesak keluar dari celana dalamnya
yang membuat Pak Lubis merasa tidak enak sehingga dia pun langsung
melepaskan celana dalamnya dan muncullah batang kemaluannya yang agak
panjang kira-kira 15 cm dengan diameter kira-kira 3 cm dan berurat
menggelantung di tengah pahanya. Dipegangnya batang kemaluannya lalu
ditempelkan tepat di bibir vaginaku. Rasa batang itu agak hangat menyentuh
vaginaku.



"Nov... masukkin... sekarang yach..."

"Iya... Pak... punya Bapak kepalanya hangat deh... batangnya pasti
lebih hangat lagi..."

Tanganku merangkul lehernya, sedangkan tangan Pak lubis memegang kedua
pantatku yang bersandar di atas meja, lalu batang kemaluannya mulai
disodokkan ke vaginaku. Aku hanya bisa terpejam menahan sodokan batangnya,
karena memang vaginaku belum pernah ditembus apapun sehingga batang itu
meletot ke kiri dan ke kanan vaginaku.



"Nov.. vaginamu sempit sekali, kamu masih perawan yach..."

"Iya.. Pak, memang belum pernah ditusuk kok Pak... baru pertama kali
ini, coba jari Bapak dulu aja..."

Pak Lubis tersenyum seakan senang bisa membobol vaginaku untuk yang
pertama kalinya. Jarinya mulai mencoba dikorek-korekkan ke vaginaku, hal
ini membuatku menggelinjang. Sekitar lima menit jari itu menguak bibir
vaginaku agar makin lebar. Setelah itu dicobanya lagi batang kemaluannya
menusuk vaginaku, dihentaknya berkali-kali hingga baru yang kesepuluh
kalinya akhirnya batang kemaluan itu masuk ke dalam vaginaku walau hanya
setengah. Batang itu membuat aku terasa sesak nafas menahan hentakan di
dalam vaginaku. Selama batang itu dihentak aku hanya bisa memejamkan mata
menahan sakit yang sangat pada dinding vaginaku tapi ketika sudah masuk
setengah rasanya berubah menjadi nikmat yang sangat luar biasa.



"Arrrgghhh.. arrgghhh.. mmggghhh.. Pak.. enak.. Pak... terus
sodoknya..."

"Iya... Nov.. heh.. heh.. vaginamu enak sekali, rasanya batangku
diperas dalam vaginamu.. heh.. heh.. oh... ohhh.. oohhh..."

Tangannya mulai mengusap perutku lalu BH-ku ditariknya sehingga payudaraku
yang montok nan mancung berselimut kulit yang putih mulus dihiasi puting
kemerah-merahan terpampang jelas. Payudaraku diremasnya, lalu mulutnya
mulai melahap payudaraku, dihisap, dikenyot dan digigit. Mulutku yang
seksi dengan bibir merekah sekarang dikecup bibirnya sesekali lidahnya
memainkan lidahku hingga aku makin menggelinjang.



Tidak puas dengan gaya menyodok dari depan, badanku di atas meja kerjanya
diputarnya sementara batang kemaluannya masih terbenam dalam vaginaku,
jadi gaya sekarang doggie style, aku berpegangan pada sisi meja
kerjanya, vaginaku disodoknya dari belakang, hal ini membuatku
meronta-ronta ketika batangnya berputar di dalam vaginaku.

"Aaahh... aaahhh... Pak enak sekali..."

"Nov... enakan gaya doggie style daripada gaya yang
tadi..."

Sodokan batang kemaluan Pak Lubis seakan akan merobek vaginaku, hingga
hampir 25 menit kemudian tiba-tiba badanku kejang dan keluarlah cairan
dari dalam vaginaku dengan derasnya membasahi batang Pak Lubis yang masih
tenggelam di dalam vaginaku, saking derasnya sebagian menetes pada meja
kerjanya, cairan yang banyak sekali keluar dari vaginaku membuatku lemas
tak berdaya.



"Aaahhh... aarrgghh.. mmmggghhh... Pak.. saya mau... keluar... nih...
Paakkk..."

Sementara Pak Lubis makin mempercepat sodokan batangnya ke vaginaku yang
becek, pantatku yang putih mulus nan montok lagi dihisap dan digigit
mulutnya, dan 5 menit kemudian Pak Lubis akhirnya mencabut batangnya dari
vaginaku dan langsung muncrat cairan dari dalam batangnya dengan deras
membasahi pantat dan punggungku. "Argh.. argh... argh... Nov...
vaginamu memang enak sekali deh... argh.. argh... sshh.. sshhh..."
Terduduklah Pak lubis di kursi kerjanya dengan lemas, sementara aku masih
tergeletak di atas meja kerja.



Tak lama kemudian ada suara ketukan di pintu, Pak Lubis sontak
membersihkan batangnya yang masih banyak cairan dengan celana dalamnya
sendiri, aku dibangunkan, vaginaku yang masih ada sisa cairan dibersihkan
dengan kertas kertas arsip yang ditemukan olehnya dan menyuruhku pakai
bajuku. Sisa cairanku yang tumpah di meja kerjanya dibersihkan dengan sapu
tangannya. Setelah aku dan Pak Lubis telah berpakaian, dia menyuruhku
keluar dari ruang kerjanya dan mempersilakan tamu yang mengetuk masuk
ruangan, rupanya yang mengetuk adalah wakil kepala sekolah, Ibu Linda.
Dengan langkah gontai kutinggalkan Pak Lubis dengan Bu Linda. Aku pun
pulang.





Bersambung ke bagian 02